Showing posts with label keamanan. Show all posts
Showing posts with label keamanan. Show all posts

Saturday, April 16, 2016

Saatnya Menguninstall Quicktime di Windows!

Sumber : Filehippo.com

Perusahaan keamanan Trend Micro mengatakan bahwa mereka menemukan dua lubang keamanan penting dalam perangkat lunak QuickTime Apple untuk Windows yang dapat dimanfaatkan untuk menyerang PC .

Kerentanan ini bisa menempatkan pengguna pada risiko jika mereka mengunjungi sebuah halaman web atau membuka file yang telah disuntik dengan konten berbahaya.

Saat ini, Trend Micro tidak menemukan jejak dari setiap serangan yang memanfaatkan kelemahan tersebut. Tetapi perusahaan ini melaporkan bahwa Apple tidak memberi dukungan untuk QuickTime pada OS Microsoft dan tidak akan memperbaiki bug tersebut, sehingga akan ada hacker yang mungkin mencoba untuk mengeksploitasinya di masa depan.

Trend Micro dan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan untuk menghapus perangkat lunak ini di OS Windows untuk mengurangi kemungkinan adanya korban penyerangan. Namun, pengguna OS X tidak perlu khawatir karena QuickTime untuk Mac masih didukung oleh Apple.

Sampai saat ini belum didapat keterangan lebih lanjut dari pihak Apple. @arihtakid

Sumber : thenextweb.com

Friday, April 15, 2016

Polisi Kanada Sudah Mampu Menyadap BBM Sejak 2010

Hingga saat ini, masih saja banyak anggapan bahwa Blackberry OS adalah Sistem Operasi yang sangat aman, termasuk layanan pesan instan mereka BBM atau Blackberry Messenger.

Janji mereka sebagai pengembang perangkat yang benar-benar aman dari aksi penyadapan nampaknya akan hancur setelah munculnya sebuah berita yang tidak menyenangkan.

Sebuah dokumen pengadilan yang telah diubah terkait skandal pembunuhan tahun 2011 silam yang melibatkan sindikat kejahatan di Montreal yang terkuak baru-baru ini menyebutkan bahwa Royal Canadian Mounted Police (RCMP) menggunakan kunci master enkripsi dalam penyelidikan dengan mencegat lebih dari 1 juta pesan BBM antara tahun 2010 dan 2012.

Laporan yang diajukan oleh RCMP tidak mengungkapkan berapa kunci yang diperoleh dan jaksa juga menolak untuk mengatakan apa-apa tentang hal itu. BlackBerry juga menolak untuk mengomentari masalah ini, dan pernyataan terkait dari operator seluler Kanada Rogers tidak menjelaskan masalah ini dengan baik.
Pemberitahuan ini menyiratkan bahwa penegak hukum Kanada telah memiliki kemampuan untuk mengintip percakapan pribadi warga untuk tahun sekarang, tanpa sepengetahuan mereka. Mirip seperti program PRISM NSA di AS, hanya saja lebih sedikit orang yang terlibat.

Tidak jelas secara rinci tentang bagaimana BlackBerry berpartisipasi dalam pelanggaran privasi ini dan apakah RCMP masih dalam kepemilikan master key. Namun berita dari Kanada ini memicu kekhawatiran dan kewaspadaan banyak orang yang 'terlalu' mempercayakan rahasia pribadi mereka pada perangkat keras dan sistem operasi dari perusahaan yang mengakui diri sebagai perusahaan paling aman sekalipun. @arihtakid

Sumber : thenextweb.com

Wednesday, June 10, 2015

Virus Penyandera Data Komputer Makan Korban di Indonesia

Ilustrasi program berbahaya
Jakarta, CNN Indonesia -- Suatu pagi di hari Senin, 25 Mei 2015, Agus Wiyono menyalakan komputer yang biasa ia pakai untuk bekerja sebagai seorang desainer grafis. Ada yang aneh dengan komputernya kala itu, karena berjalan lambat dan muncul susunan teks seperti DOS ketika ingin masuk ke sistem operasi Windows 7.

Sebuah notifikasi tak biasa muncul setelah komputer berhasil masuk ke Windows 7. Agus masih tidak mengerti apa maksud notifikasi itu karena tak pernah menemuinya.

Beberapa folder tempat ia biasa menyimpan dokumen dimasuki. Sebuah dokumen yang dibuat dari peranti lunak InDesign dibuka. Klik-klik... tetapi sesuatu yang aneh ditemukan. Padahal hari sebelumnya dokumen itu masih bisa dibuka dan diolah lagi.

Segera ia membuka dokumen lain yang dikerjakan pada peranti Adobe Photoshop. Hasilnya sama. Notifikasi aneh itu muncul lagi dan dokumennya tidak bisa dibuka.

Notifikasi itu berasal dari peranti lunak Locker v5.46. Ini bukanlah peranti lunak yang dibuat untuk mendukung produktivitas seseorang, melainkan sebuah peranti lunak jahat (malware) yang dibuat untuk tujuan memeras.
Tampilan notifikasi virus penyandera dokumen yang meminta tebusan (ransomware) Locker v5.46. (Dok. Agus Wiyono)
Tiga layanan bursa Bitcoin yang direkomendasikan oleh peretas dari virus penyandera dokumen yang meminta tebusan (ransomware) Locker v5.46. (Dok. Agus Wiyono)

Locker v5.46 bertugas mengenkripsi atau mengunci dokumen dengan algoritma enkripsi khusus. Setiap dokumen yang terkunci oleh peranti lunak ini hanya bisa diakses jika memasukkan kode unik untuk membuka enkripsinya.

"Saya tidak tahu berapa banyak dokumen saya yang terinfeksi virus ini karena saya menyimpan dokumen banyak sekali. Tapi dokumen penting yang saya buka tidak berhasil diakses," kata Agus kepada CNN Indonesia.

Ia mengaku sangat terganggu dengan keberadaan virus tersebut. Terpaksa, Agus harus mengerjakan ulang dokumen desain grafis yang telah ditunggu kliennya. Sehari-hari, Agus bekerja sebagai pekerja lepas desainer grafis dari rumahnya di Jatiasih, Bekasi, kebanyakan untuk perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat.

Agus adalah korban dari virus ransomware jenis Locker (versi 5.46) yang sering disebut sebagai virus penyandera dokumen di komputer. Para korban yang ingin mendapatkan kode unik untuk membuka enkripsi, diminta untuk membayar uang tebusan kepada penjahat siber yang telah meretas komputer korban. Tebusan itu tidak berbentuk mata uang suatu negara, melainkan mata uang virtual Bitcoin.
Jika korban tidak memiliki backup dokumen, dan dokumen itu tergolong sangat penting, maka ini bisa jadi bencana.

"Virus ini mengunci semua dokumen InDesign dan Microsoft Word. Kalau dokumen Photoshop dan JPEG sifatnya random, ada beberapa yang masih bisa saya buka. Bukan cuma di partisi hard disk C, tetapi juga di partisi lain," tegas pria 41 tahun itu.

Mengetahui ada yang tidak beres dengan komputernya, Agus segera mencari informasi seputar Locker dengan mesin pencari Google. Ia menyadari bahwa dokumennya disandera oleh peretas.

Toko komputer yang biasa ia pakai jasanya untuk memperbaiki peranti keras dan peranti lunak, mengaku tidak bisa memperbaiki kerusakan ini.

Dalam notifikasi, peranti lunak ini memperingatkan bahwa "Semua dokumen personal Anda di komputer ini terkunci dan terenkripsi oleh Locker v5.46." Virus ini memperingatkan bahwa dokumen yang terkunci itu tidak rusak, namun berada dalam kondisi tidak bisa dibaca.

Dokumen yang terkunci hanya dapat dibuka dengan kode rahasia unik berteknologi 2048-bit RSA dan disebut tersimpan di server milik peretas. Di sana peretas juga mengancam jika korban tidak membayar tebusan, maka dokumen akan "dihancurkan" dan tidak dapat membuka dokumen itu lagi.

Nilai tebusan yang diminta adalah 0,1 Bitcoin dan harus dikirim ke nomor rekening tertentu. Tebusan itu tidak bisa dikirim lewat sembarang layanan bursa Bitcoin. Penjahat siber itu hanya mengizinkan korban mentransfer tebusan melalui tiga layanan bursa Bitcoin yang telah disediakan tautannya.

"Harus pakai yang sudah ditentukan oleh mereka. Karena, mereka bilang layanan Bitcoin lain sudah diretas oleh mereka," ucap Agus.

Berasal dari Eropa Timur

Agus merupakan satu dari sekian banyak korban ransomware Locker yang ada di dunia. Direktur perusahaan keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya memprediksi, korban ransomware Locker di Indonesia telah mencapai puluhan orang dan mayoritas berasal dari segmen korporasi.

Untuk segmen korporasi lebih menyeramkan infeksinya. walau yang terkena hanya satu komputer klien, tetapi data dari komputer lain yang dibagikan juga terancam terkunci oleh virus Locker.

Program jahat jenis ransomware mulai terdengar pada pertengahan 2013. Kemudian masuk ke Indonesia pada pertengahan 2014, dan hingga kini terus berkembang.

Baca juga: Sumber Virus Penyandera Terdeteksi dari Eropa Timur

Belum diketahui secara pasti dari mana malware terebut berasal, namun diduga kuat pusatnya ada di Eropa Timur.

"Mayoritas dari Eropa Timur, seperti Rusia, Ukraina, Rumania. Tiongkok sedang mulai menyebar sekarang," tutur Alfons yang dikenal sebagai pakar antivirus komputer.

Secara umum, Alfons menjelaskan, ransomware merupakan program yang mencegah atau membatasi pengguna untuk mengakses sistem atau data mereka sendiri, kemudian memaksa para korban untuk membayar tebusan melalui pembayaran online agar kembali bisa mengakses datanya.

Ransomware lain yang pernah ditemukan Alfons adalah Teslacrypt, Cryptowall, dan Alfacrypt.

Virus yang melanda Agus ini juga dikenal dengan nama CTB Locker. Nama CTB merupakan singkatan dari Curve, Tor, Bitcoin. Curve karena metode enkripsi yang digunakan adalah teknik kriptografi kurva elips yang secara teknis lebih efisien dari kriptografi konvensional, Tor adalah metode komunikasi yang digunakan memanfaatkan The Onion Router, dan Bitcoin karena metode tebusannya menggunakan mata uang Bitcoin.

"Karena mereka tak ingin terlacak, maka mereka memanfaatkan mata uang virtual Bitcoin," lanjut Alfons.

Menurut data dari situs VirusRadar.com, virus yang disebut CTB Locker menyebar di 0,16 persen komputer bersistem operasi Windows XP, Windows Vista, Windows 7, dan Windows 8, di Indonesia.

Jangan Mengakses Sembarang Situs Web

Agus tidak mengetahui pasti dari mana virus Locker ini bisa sampai menginfeksi komputernya. Tetapi Agus punya dugaan kuat, virus tersebut berasal dari layanan Torrent yang biasa dipakai anaknya untuk mengunduh permainan di komputer.

"Anak-anak main klik link apa saja yang mereka temui. Anak saya suka mengunduh dari Torrent. Mungkin berasal dari situ," Agus menduga.

Cara infeksi virus bisa melalui beragam saluran, dengan cara tradisional seperti mengirimkan lampiran berformat PDF atau ZIP lewat email yang dikirim ke korban, atau bisa juga melalui situs web yang sengaja memancing orang untuk mengkliknya.

Situs web Torrent dikenal sebagai tempat yang tidak aman untuk dikunjungi karena tidak ada jaminan keamanan. Begitu juga situs web pornografi yang disebut Alfons sebagai gudang virus dan sebaiknya jangan pernah dikunjungi "karena kita tidak tahu virus apa yang diselundupkan di layanan mereka."

Pasrah dan Menunggu

Agus pusing bukan kepalang setelah komputernya terinfeksi ransomware Locker karena beberapa dokumen pentingnya tidak di-backup. Ia segera mencari seseorang yang bisa dimintai solusi.

Dari hasil penelusuran dengan mesin pencari Google, Agus menemukan nama Alfons dan pakar keamanan siber lain. Ia kemudian mengirim email untuk berkonsultasi. "Saya juga telah mengirim sampel satu folder yang saya duga sebagai pusat virusnya, agar diteliti sama mereka," jelas Agus.
Alfons menyarankan agar Agus tidak mentransfer untuk membayar tebusan atas dokumennya yang disandera. Karena, ia tidak pernah tahu, tebusan senilai 0,1 Bitcoin itu berlaku untuk menebus hanya satu dokumen atau untuk semua dokumen.

"Alfons menyarankan untuk tidak memberi tebusan. Karena kalau sampai kita transfer, bisa jadi mereka makin gila. Ini benar-benar pemerasan dan faktor utamanya adalah ekonomi," tutur Agus.

Solusi agar terhindar dari virus penyandera ini, kata Alfons adalah membuat backup dokumen. Dokumen penting yang ukurannya besar bisa di-backup di kepingan DVD dan dibuat offline. Sementara dokumen yang ukurannya relatif kecil bisa di-backup di layanan komputasi awan seperti Dropbox atau Google Drive.

"Backup yang baik dan benar itu sangat penting. Jadi, kalau terkena ransomware, data pekerjaan seperti Word, Excel, dan mungkin desain aman karena ter-backup dan tinggal di-restore," Alfon menjelaskan.

Pasrah. Itu lah yang akhirnya dipilih oleh Agus. Fokusnya sekarang adalah mencari dokumen yang berhasil dia backup dan mengerjakan ulang desain yang telah ditunggu klien. Foto-foto berharga, yang kebanyakan menyimpan momen bersama keluarga, harus direlakan hilang.

Ia berharap ada pakar keamanan siber di belahan dunia lain yang membuat solusi untuknya.

Beberapa waktu lalu sempat muncul virus yang mirip dengan Locker. Setelah beredar cukup lama dan telah diteliti oleh pakar keamanan, virus itu akhirnya bisa taklukan. Para pakar membuat sebuah situs web yang memungkinkan para korban mengunggah dokumen yang terkunci lewat situs web, lalu para pakar keamanan membantu untuk membukanya dengan memberi kode unik pembuka enkripsi, kemudian mengirim kembali dokumen kepada si korban.

"Sekarang saya cuma bisa menunggu ada website semacam ini, sampai saya bisa membuka lagi dokumen-dokumen saya," Agus berharap.

Monday, June 8, 2015

Bagaimana Lolos dari Intaian Bandit Dunia Maya?

Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia yang makin terhubung ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, jendela informasi dan pengetahuan terbuka lebar bagi siapapun.

Tapi di sisi lain, ada bahaya yang mengintip di sana. Kejahatan dunia maya semakin masif dengan motif mencari keuntungan ekonomi.

Kejahatan siber telah merugikan perekonomian dunia sebesar US$ 445 miliar setiap tahun. Itu setara dengan Rp 5.785 triliun atau dua kali APBN Indonesia.

Kerugian yang ditimbulkan macam-macam. Selain kerugian uang, kehilangan properti intelektual, sampai lenyapnya data-data penting dan rahasia.

Sebagai contoh kasus Sony Pictures yang menggemparkan belum lama ini. Berinvestasi sedemikian besar dalam infrastuktur pengamanan ternyata belum cukup untuk melepaskan Sony dari jerat para peretas.

Ribuan dokumen penting diungkap ke publik. Ratusan pesan dan surat elektronik rahasia jadi skandal yang makin menyeret Sony ke arah kehancuran.

Tak ada seorang pun yang mengklaim dirinya aman dari kejahatan dunia maya. Bahkan perangkat teknologi buatan Apple—yang selama ini didengung-dengungkan aman dari virus dan peretas—pun rentan terhadap kejahatan semacam itu.

Pedro Vilaca, seorang peneliti keamanan komputer dari Portugal, menemukan celah di komputer Mac yang memungkinkan masuknya peretas.

Meski tak sebanyak virus yang menyerang sistem operasi Windows maupun Android, sistem operasi iOS juga tak luput dari incaran pembuat program jahat.

Di dalam situasi seperti ini, mau tak mau diperlukan kearifan dan kewaspadaan kalau Anda mau selamat saat beraktivitas di dunia maya atau di jagad teknologi.

Pertama, selalu bentengi diri dengan kewaspadaan bahwa apapun yang sifatnya menarik dan memancing perhatian, bisa jadi adalah ‘pancingan’ dari pelaku kejahatan siber.

Tak perlulah terpancing mengunjungi link-link tak jelas di e-mail atau di timeline sosial media Anda. Apalagi link-link yang berbau syahwat, yang kerap kali menggoda untuk diklik. (Kecuali bahwa pada dasarnya Anda memang penggila hal-hal yang seperti itu dan tak memperdulikan apapun).

Kedua, bentengi inbox e-mail Anda dengan fitur-fitur keselamatan yang disediakan provider-nya. Mulai dari penyaring spam alias e-mail sampah, sampai sistem login berlapis. Ubah juga password secara berkala dengan kombinasi yang sulit ditebak.

Aturan yang sama berlaku di sosial media. Bisa jadi amat merepotkan. Tapi yakinlah, akan lebih sangat merepotkan bila akun email dan sosmed Anda sampai direbut oleh orang lain.

Begitu pun jika dari email atau link sosmed menularkan virus alias malware ke sistem komputer atau smartphone Anda. Aktivitas apapun di komputer atau smartphone Anda bisa dipantau pelaku kejahatan dari jauh.

Akibatnya, barangkali tak cuma dokumen penting yang lenyap, Anda pun bisa kehilangan uang yang banyak saat aktivitas perbankan Anda dibobol.

Modus baru ransomware, virus penyandera dokumen, yang sedang ramai akhir-akhir ini tak kalah mengerikan. Dokumen Anda ‘diculik’ dan Anda diminta membayar sejumlah uang, tanpa jaminan bahwa dokumen itu akan kembali atau tak dibocorkan.

Ketiga, bentengi juga sistem komputer dan gadget yang terhubung ke Internet dengan antivirus yang banyak dijual di pasaran. Disarankan untuk membeli antivirus berbayar, yang pasti memiliki ramuan penangkal yang lebih mujarab dalam menghadapi trend virus yang bertebaran, ketimbang antivirus gratisan.

Rajin-rajinlah memindai sistem komputer dan gadget, barangkali ada virus yang tak sengaja hinggap. Begitu pun saat memakai penyimpan data portabel seperti USB flashdisk atau harddisk eksternal. Makin sering dicolokkan ke komputer bukan milik Anda, makin tinggi risiko ia terpapar virus dan menulari komputer Anda. Berhati-hatilah!

Sunday, May 24, 2015

Mengapa kami memilih Avast Free?

Kami sebagai penyedia layanan instalasi ulang (recovery ke image pabrik/bawaan laptop) dengan sistem operasi Windows tentu ingin memberikan yang terbaik kepada pelanggan. Windows adalah Sistem Operasi dengan jumlah pemakai terbanyak di seluruh dunia. Tentu hal ini memicu Windows menjadi target kejahatan digital.

Dari pengalaman kami sejak dulu, gonta-ganti antivirus, mulai dari AVG yang :

  1. Membuat Windows sering lelet booting awal
  2. Super sensitive masalah crack dan keygen
  3. Tampilan ribet.
Avira yang :

  1. Menggangu sekali dalam pemberitahuan kondisi. Antivirus paling cerewet yang pernah kami pakai.
  2. Setiap kegiatan pelaporan baik saat menemukan virus atau minta diupdate selalu saja memunculkan jendela di kanan bawah Windows yang kondisinya Always On Top. Mengganggu sekali ketika bekerja, menonton dan kadang muncul juga saat main game.

Kaspersky (yang jelas bajakan) yang selalu membuat kita kerepotan mencari key baru setiap kali selesai update database. Tidak ada versi gratis masalahnya...hehe
Dan kalau lupa mengganti key, sistem perlindungannya otomatis mati dan alamat komputer bakalan mudah disusupi program jahat.

ESET NOD yang hampir sama dengan AVG,  kemudian Panda Antivirus yang sebetulnya lumayan (kalau terkoneksi ke internet), soalnya di doi pakai sistem Cloud database. Susah kalau komputernya offline terus. Dan Vipre Antivirus yang seolah-olah tidak berguna. Pengenalannya terhadap virus baru terlebih kepada varian heuristic sungguh mengecewakan. Kami memutuskan untuk "berlabuh" untuk waktu yang lama (entah sampai kapan) ke "pelabuhan" Avast Free.

Dan inilah alasan kami memilih dan betah dengan Avast free:


  1. Cerdas, hampir tidak pernah ada false alert, software crack berbahaya tetap terdeteksi bro, tapi crack yang aman juga banyak. Avira free terlalu sensitif, dikit-dikit dianggap malware.
  2. Tidak capek karena serba otomatis, masih teringat saat pakai Avira free, tancap flashdisk bervirus kudu klik-klik mouse terus sejumlah virusnya, kalau ada sejuta virus bisa capek dan mouse rusak (versi lama tentunya, entah kalau sekarang).
  3. Ada fitur boot-time scan, scan virus dijadwalkan jalan pas booting, segala macam malware belum sempat mengaktifkan diri sudah dibunuh duluan. Ini cara scan yang ampuh top markotop yang tidak ada di avira free.
  4. Fitur WebRep ok beneeeer, web yang bagus dan yang jelek langsung terlihat di browser sebelah kiri alamat web, juga dapat berpartisipasi memberi penilaian suatu web bagus atau buruk.
  5. Lebih lengkap proteksi real-time nya, dan ada exclusion list yang bisa diset jika ingin memasukkan program yang dikira virus sementara file itu diyakini aman untuk bisa berjalan dengan normal.
  6. Modal free email dapat gratis pakai 1 tahun, siapa yang nggak minat?
  7. Belum pernah ada keluhan dari pelanggan kecuali memang kalau sudah lama tidak update dan antivirus tidak sengaja dimatikan saat mencolokkkan flashdisk bervirus.

Ini sekedar pendapat pribadi yang subjektif, yang lebih suka antivirus lain, itu hak anda tentunya.
Kami tidak membicarakan SMADAV dan McAfee karena keduanya tidak masuk daftar di AV-Comparative. BitDefender dan Kaspersky sebenarnya bagus tapi mahal. Nilai ekonomis perlu juga dipikirkan, hehe. Bagaimana dengan TrendMicro? Bagus, tapi maunya diinstall di Hardware yang lumayan gede speknya, mirip Bit Defender lah.